#katamereka
Terdengar cerita atas daerah perdesaan yang subur, sejuk
indah tumbuhan yang menghijau, tumbuh di atas tanah yang datar penuh pohon dan
semak yang masih lebat. Suatu ketika, datanglah
seorang pendatang dari Singosari, yang singgah di desa yang belum mempunyai
nama itu.
Orang tersebut ingin tinggal menetap di desa, dan dia ingin
memberi nama desa tersebut. Usai ki sanak tersebut tersebut jalan-jalan
mengelilingi desa, dia menemukan sembilan mata air, dan orang tersebut
terinspirasi untuk memberi nama desa tersebut dengan nama Desa Kesongo.
Konon, orang tersebut pergi untuk menjemput anak dan
istrinya di Singosari, diajak tinggal di Desa Kesongo. Lama kelamaan desa itu
ramai dihuni, dan orang tersebut diangkat oleh warga desa, menjadi demang
pertama.
Hiduplah sekelompok masyarakat dengan rukun dan damai
meski mereka masih dalam kehidupan yang serbasederhana. Orang tersebut menjadi
demang selama kurang lebih empat puluh lima tahun.
Adapun sembilan mata air tersebut sampai sekarang masih
ada, lebih tepatnya berada di Dusun Ngreco, sebelah Timur Laut Desa Kesongo. Masyarakat
setempat menyebutnya dengan sebutan Tok Songo. Sampai saat ini mata
air tersebut terus dimanfaatkan untuk masyarakat Desa Kesongo, terlebih bagi
penduduk di sebelah barat mata air, mengingat lokasinya yang lebih rendah.
Desa Kesongo, lama-kelamaan menjadi ramai dengan adanya
pendatang yang menetap dan tinggal di desa ini. Desa Kesongo terletak di
sebelah Timur danau Rawa Pening yang merupakan perbatasan antara wilayah
Kabupaten Semarang dengan Kota Salatiga.
Saat ini Desa Kesongo telah menjadi desa di perbatasan
kota, yang dilalui oleh jalan nasional Semarang-Solo, dengan penduduk lebih
dari lima ribu jiwa.
Sumber: http://desakesongo.blogspot.co.id/2014/08/sejarah-desa-kesongo-bermartabat.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar